Opini
22 Oct 2026
Dari Mimbar Hari Santri ke Aksi Sosial: Membaca Gerakan Tolak LGBT di Pamijahan
Pamijahan, Kamis, 22 Oktober 2026 — Peringatan Hari Santri Nasional (HSN) 2026 di depan Kantor Kecamatan Pamijahan seharusnya tidak berhenti pada upacara dan kemeriahan acara semata. Hari Santri merupakan momentum untuk merefleksikan kembali peran santri dalam menjaga nilai keagamaan, kebangsaan, dan kepedulian sosial. Keterlibatan KKN UNUSIA MD-04 dalam membantu menyukseskan kegiatan ini menjadi salah satu bentuk partisipasi mahasiswa dalam kehidupan masyarakat. Namun, lebih dari sekadar menyukseskan acara, momentum ini harus mampu mendorong lahirnya pengabdian yang nyata dan berkelanjutan.
Kegiatan tersebut turut melibatkan Fatayat NU, Muslimat NU, GP Ansor, KNPI Pamijahan, serta para santri di wilayah Pamijahan. Kolaborasi berbagai unsur ini menunjukkan bahwa kekuatan masyarakat terletak pada kebersamaan dan kesediaan untuk bergerak bersama. Akan tetapi, keberhasilan Hari Santri tidak semestinya hanya diukur dari banyaknya peserta atau meriahnya peringatan. Ukuran yang lebih penting adalah sejauh mana semangat kesantrian mampu diwujudkan melalui pendidikan, pemberdayaan masyarakat, kepedulian terhadap persoalan sosial, dan kontribusi nyata bagi lingkungan sekitar.
Salah satu rangkaian kegiatan yang menjadi perhatian adalah aksi penandatanganan pernyataan penolakan terhadap LGBT oleh sejumlah peserta. Aksi tersebut mencerminkan pandangan dan sikap moral yang ingin disuarakan oleh sebagian unsur masyarakat. Meski demikian, penyampaian sikap terhadap isu yang sensitif perlu disertai dialog yang sehat, edukasi yang bertanggung jawab, dan penghormatan terhadap martabat setiap manusia. Perbedaan pandangan tidak seharusnya menjadi pembenaran bagi perundungan, diskriminasi, ataupun kekerasan. Nilai keagamaan semestinya menjadi landasan untuk membangun masyarakat yang berakhlak, bijaksana, dan mampu menyikapi perbedaan secara dewasa.
Bagi KKN UNUSIA MD-04, keterlibatan dalam peringatan Hari Santri harus menjadi awal untuk memperluas pengabdian, bukan sekadar bagian dari dokumentasi kegiatan. Mahasiswa perlu mengambil peran lebih jauh melalui program literasi, pendampingan generasi muda, pemberdayaan masyarakat, serta penguatan dialog sosial yang konstruktif. Dengan demikian, kehadiran mahasiswa tidak hanya terlihat ketika kegiatan berlangsung, tetapi juga dirasakan manfaatnya setelah kegiatan berakhir. Pengabdian yang bermakna adalah pengabdian yang berangkat dari kebutuhan masyarakat dan menghadirkan perubahan yang dapat dirasakan secara langsung.
Pada akhirnya, Hari Santri Nasional 2026 di Pamijahan harus menjadi pengingat bahwa santri dan mahasiswa memiliki tanggung jawab sosial yang lebih besar daripada sekadar mengikuti seremoni. Semangat perjuangan santri perlu diterjemahkan menjadi tindakan yang memperkuat persatuan, mencerdaskan masyarakat, dan menjaga nilai kemanusiaan. Hari Santri bukan hanya tentang siapa yang hadir dalam upacara, melainkan tentang siapa yang terus bekerja setelah upacara usai. Sebab, keberhasilan sebuah peringatan tidak ditentukan oleh kemeriahannya, tetapi oleh dampak nyata yang ditinggalkannya bagi masyarakat.
Editor : Selly Adinda (Acara)
Opini
Indonesia Emas