Opini
24 Mar 2026
Kesetaraan Tanpa Keberanian: Ilusi yang Kita Pelihara
Perempuan hari ini tidak lagi hidup di zaman yang sepenuhnya gelap. Pintu-pintu itu sudah mulai terbuka. Pendidikan bisa diakses, pekerjaan tersedia, dan ruang bicara semakin luas. Bahkan, peluang-peluang itu kini datang tanpa kita harus mengetuk terlalu keras.
Namun, tetap saja ada pemandangan yang sering terulang: kita berdiri di depan pintu yang terbuka sambil ragu untuk masuk. Lalu kita mengatakan bahwa dunia belum cukup adil.
Ini mungkin tidak populer, tetapi perlu dikatakan. Barangkali, dalam beberapa kasus, masalahnya bukan lagi semata pada pintu yang tertutup, melainkan pada langkah yang tidak jadi diambil.
Kita adalah generasi yang sangat fasih mengucapkan kata “kesetaraan”. Diskusi hidup, forum ramai, dan unggahan penuh kesadaran. Namun, ketika kesempatan itu benar-benar datang, seperti beasiswa, posisi kerja, atau ruang kepemimpinan, yang muncul justru suara pelan, “Aku takut tidak cukup.”
Aneh juga rasanya. Kita bisa begitu yakin bahwa sistem itu menekan kita, tetapi pada saat yang sama, kita juga ikut menekan diri sendiri.
Raden Ajeng Kartini, seorang pelopor emansipasi perempuan Indonesia, dahulu tidak memiliki kemewahan seperti yang kita rasakan hari ini. Namun, ia tetap berpikir, tetap menulis, dan tetap melawan, bahkan ketika ruangnya nyaris tidak ada. Sementara kita, yang memiliki ruang jauh lebih luas, justru kadang sibuk memastikan semuanya aman sebelum melangkah.
Padahal, sejak kapan perubahan itu terasa nyaman?
Ester Lianawati, seorang penulis dan psikolog feminis Indonesia yang dikenal melalui pemikirannya tentang perempuan, patriarki, dan keberanian diri, pernah menggambarkan bahwa dalam diri perempuan terdapat “serigala betina” yang liar, berani, dan tidak tunduk. Namun, yang sering terjadi, serigala itu bukan dibungkam oleh orang lain, melainkan kita jinakkan sendiri. Kita latih diri untuk patuh, kita ajari diri untuk ragu, dan kita biasakan diri untuk tidak terlalu menonjol.
Akhirnya, kita tumbuh menjadi versi yang “aman”, tetapi hanya setengah berani.
Di situlah ironi terbesar itu muncul. Kita ingin bebas, tetapi masih takut dengan konsekuensi dari kebebasan itu sendiri. Kita ingin setara, tetapi tidak siap bersaing. Kita ingin didengar, tetapi ragu untuk berbicara lantang. Kita ingin maju, tetapi takut gagal.
Sementara itu, dunia tidak pernah benar-benar menunggu kesiapan siapa pun.
Siti Musdah Mulia, seorang cendekiawan Muslim, feminis, dan aktivis hak asasi manusia Indonesia, mengingatkan bahwa keadilan gender tidak cukup hanya diperjuangkan pada level wacana, tetapi juga harus diwujudkan melalui keberanian individu untuk keluar dari ketidakadilan tersebut. Dan keberanian itu, sayangnya, tidak bisa diwakilkan.
Ia harus diambil.
Maka, mungkin sudah saatnya kita menggeser pertanyaan. Dari yang semula, “Mengapa ruang itu belum sepenuhnya adil?” menjadi, “Mengapa aku belum juga masuk, padahal ruang itu sudah terbuka?”
Karena bisa jadi, yang selama ini kita lawan bukan hanya struktur di luar sana, tetapi juga ketakutan yang diam-diam kita pelihara di dalam diri.
Dan jika itu yang terjadi, maka kesetaraan tanpa keberanian memang tidak akan pernah lebih dari sekadar ilusi.
Opini
Indonesia Emas