Opini
17 Apr 2026
PEREMPUAN DAN KESENJANGAN DIGITAL: TANTANGAN AKSES TEKNOLOGI DI ERA REMOTE WORK
OPINI
Fahri Sibua
Perubahan digital dua dekade terakhir telah mengubah tatanan sosial-ekonomi secara mendalam. Bukan hanya penggantian alat manual dengan perangkat digital, tetapi restrukturisasi pola kerja, komunikasi, relasi profesional, dan rutinitas rumah tangga. Kerja remote menjadi simbol era ini: bergeser dari kehadiran fisik ke ketergantungan pada koneksi internet, perangkat, dan kemampuan adaptasi virtual. Narasi umum memuji efisiensi, fleksibilitas, dan peluang baru didukung data peningkatan penggunaan internet di Indonesia. Namun, pandangan kritis menunjukkan bahwa angka-angka ini menyembunyikan ketidakadilan, siapa yang benar-benar diuntungkan, sementara kelompok lain tertinggal.
Hubungan perempuan dengan digital tidak boleh direduksi pada akses internet semata. Asumsi bahwa infrastruktur saja cukup untuk manfaat merata adalah kesalahan fatal. Pengalaman perempuan dimediasi oleh kelas sosial, lokasi geografis, pendidikan, pembagian tugas rumah tangga, dan norma gender yang kuat. Mereka memasuki remote work dari posisi timpang struktural. Klaim remote sebagai "kebebasan baru" harus diinterogasi, untuk siapa? Dengan syarat apa? Apakah fleksibilitas benar-benar mengatasi hambatan sistemik. Diskusi ini harus menghindari pendekatan teknokratis sempit. Transformasi digital melibatkan perebutan kuasa, distribusi peluang, dan konversi teknologi menjadi nilai ekonomi-sosial. Mengabaikannya berarti menerima narasi kemajuan yang hanya memperkuat ketimpangan dalam bentuk baru. Analisis kesenjangan digital perempuan di remote work perlu ditempatkan dalam kerangka keadilan sosial, kesetaraan gender, dan pemerataan akses.
Akses Digital Tidak Otomatis Berarti Kesetaraan Kesempatan
Transformasi digital sering jatuh ke dalam jebakan, peningkatan akses internet otomatis berarti peluang merata ini reduksionisme yang keliru. Data nasional memang menunjukkan kemajuan, tetapi akses sejati lebih kompleks. kualitas koneksi, kecukupan perangkat, pola penggunaan produktif, kemampuan pemanfaatan, dan dukungan sosial. Ketidakseimbangan dimensi ini menciptakan ilusi konektivitas, bukan kesetaraan substantif.
Bagi perempuan, ketidakadilan ini mencolok. Banyak yang terhubung secara nominal, tetapi kekurangan kendali, berbagi perangkat dengan keluarga membuat akses bergantung pada izin dan waktu, perangkat pribadi sering tidak memadai untuk tugas kerja seperti video konferensi. Di wilayah pinggiran, masalah infrastruktur, biaya tinggi, dan minimnya ekosistem memperburuk situasi. Ini bukan hanya teknis, tetapi posisi sosial yang tidak memprioritaskan perempuan kritik tajam terhadap narasi inklusi superfisial. Lebih lanjut, perempuan membutuhkan otonomi akses, yang sering hilang dalam pembagian rumah tangga berbasis gender. Data statistik penggunaan internet menutupi kenyataan bahwa mereka sulit mengubahnya menjadi kemajuan karir. Kesenjangan digital perempuan adalah masalah distribusi kuasa domestik dan sosial, bukan sekadar infrastruktur. Perbedaan akses konsumtif (sosial media) dan produktif (pelatihan kerja) semakin menegaskan kegagalan indikator nasional dalam mengukur keberhasilan sejati.
Kerja Remote: Peluang Ambivalen yang Mereproduksi Ketimpangan
Narasi remote work sebagai penyelamat perempuan melalui fleksibilitas adalah simplifikasi berbahaya. Masalah perempuan di dunia kerja melampaui lokasi fisik; remote membuka peluang, tetapi sering menjadi arena baru bagi ketimpangan lama beroperasi secara terselubung. Keuntungannya jelas, akses pasar kerja lebih luas tanpa mobilitas fisik. Namun, ini bergantung pada kondisi ideal ruang kerja memadai, koneksi stabil, perangkat kompeten, dan lingkungan rumah yang mendukung yang jarang terpenuhi, sehingga menambah beban eksisting. Kritik mendasar, pengaburan batas antara ruang kerja dan domestik. Bagi perempuan, rumah adalah situs tugas pengasuhan, pekerjaan rumah tangga, dan ekspektasi gender kontinu remote menumpuk tuntutan profesional ke sana, menciptakan intensifikasi kerja, bukan pembebasan.
Institusi kerja sering memperlakukan remote sebagai penyesuaian teknis, mempertahankan standar produktivitas tinggi tanpa mempertimbangkan realitas domestik. Perempuan paling rentan: harus membuktikan kompetensi sambil menghadapi asumsi bahwa mereka "punya waktu lebih" untuk urusan rumah. Paradoksnya, fleksibilitas berubah menjadi kewajiban ketersediaan permanen. Remote work hanya progresif jika didukung kebijakan sensitif gender; tanpa itu, narasinya hanya menutupi ketimpangan struktural.
Beban Domestik dan Perawatan: Akar Ketimpangan yang Diabaikan
Faktor paling menentukan ketidakmerataan manfaat remote adalah beban domestik dan perawatan tidak berbayar. Di Indonesia, perempuan tetap menjadi penanggung jawab utama pengasuhan, perawatan keluarga, pemeliharaan rumah, dan dukungan emosional fenomena yang dinormalisasi sebagai "kodrat", padahal secara struktural menghambat partisipasi kerja.
Remote tidak mengubah struktur ini, malah memperkuatnya dengan memposisikan rumah sebagai domain "alami" perempuan, di mana mereka dianggap selalu tersedia. Akibatnya, pekerjaan profesional kehilangan legitimasi ruang dan waktu, menghasilkan ketidakadilan baik simbolis maupun material yang menggerus produktivitas. Efek domino, waktu untuk pengembangan skill dan jaringan terserap oleh tugas perawatan tak berujung. Kritik pedas, kesenjangan digital tidak terpisahkan dari ekonomi perawatan yang timpang. Romantisasi kemampuan multitasking perempuan sebagai "kekuatan" sebenarnya menjustifikasi beban berlapis yang tidak proporsional. Isu perawatan harus menjadi prioritas publik bukan urusan pribadi untuk menghindari kegagalan inklusi digital yang dangkal.
Literasi Digital; Pemberdayaan, dan Daya Tawar Ekonomi
Kesenjangan melampaui akses dan beban domestik, literasi digital dan pemberdayaan ekonomi menjadi titik kritis. Kebijakan sering terbatas pada keterampilan dasar, mengasumsikan translasi langsung ke kemandirian ekonomi sebuah asumsi yang gagal. Jarak besar antara penguasaan alat dan kemampuan bersaing di pasar kerja digital. Literasi harus mencakup keterampilan aplikatif, komunikasi profesional online, pengolahan data, pemasaran digital, keamanan siber, manajemen platform, dan pembangunan jaringan. Tanpa ini, perempuan tetap sebagai konsumen teknologi, bukan aktor ekonomi. Perbedaan antara kompetensi teknis dan pemberdayaan kemampuan mengubahnya menjadi pendapatan dan otonomi harus diakui. Ukuran keberhasilan bukan jumlah pengguna, melainkan peningkatan daya tawar perempuan; kegagalan di sini berarti transformasi digital hanya melahirkan disparitas baru.
Arah Kebijakan dan Keadilan Digital bagi Perempuan
Setelah melihat persoalan akses, fleksibilitas kerja, beban domestik, dan keterampilan digital, saya berkesimpulan bahwa solusi terhadap kesenjangan digital perempuan tidak dapat bersifat kosmetik. Kebijakan yang hanya berfokus pada perluasan infrastruktur, pelatihan sesaat, atau promosi kerja fleksibel tanpa pembacaan gender yang jelas tidak akan menyelesaikan persoalan pada akar masalahnya. Yang dibutuhkan adalah pendekatan yang menggabungkan pembangunan digital dengan agenda keadilan sosial. Artinya, negara, institusi kerja, dan masyarakat harus menyadari bahwa teknologi tidak pernah benar benar netral. Ia selalu beroperasi dalam struktur sosial tertentu. Jika struktur itu masih timpang, maka teknologi hanya akan mempercepat ketimpangan yang sudah ada.
Saya melihat bahwa isu perempuan dan kesenjangan digital di era remote work bukanlah isu sampingan dalam pembahasan transformasi digital, melainkan salah satu ujian utama bagi seberapa inklusif perubahan itu benar benar berlangsung. Remote work memang membawa potensi pembaruan dalam dunia kerja, tetapi potensi tersebut tidak dapat dinikmati secara merata apabila perempuan masih menghadapi keterbatasan akses, rendahnya pemberdayaan digital, lemahnya perlindungan kerja, dan beban domestik yang tidak proporsional. Dalam situasi seperti ini, teknologi belum bekerja sebagai instrumen pembebasan, melainkan baru menjadi ruang baru tempat ketimpangan lama menyesuaikan bentuknya.
Dalam pandangan saya, kemajuan digital yang sejati tidak dapat diukur hanya dari bertambahnya jumlah pengguna internet atau meluasnya penggunaan platform kerja daring. Kemajuan digital yang sejati justru diukur dari siapa yang benar benar dapat memanfaatkan teknologi untuk hidup lebih adil, lebih aman, dan lebih bermartabat. Jika perempuan masih harus berjuang dua kali lebih keras hanya untuk memperoleh manfaat yang sama dalam dunia kerja digital, maka kita belum berada pada titik transformasi yang benar benar inklusif. Karena itu, masa depan kerja yang adil menuntut lebih dari sekadar inovasi teknologi. Ia menuntut keberanian untuk menata ulang kebijakan, membagi ulang tanggung jawab sosial, dan mengubah cara pandang terhadap kerja perempuan, baik di ruang publik maupun di dalam rumah. Hanya dengan cara itulah teknologi dapat sungguh sungguh menjadi jembatan kesempatan, bukan sekadar cermin baru dari ketimpangan lama.
Opini
Indonesia Emas