Ilustrasi • Indonesia Emas 2045
Opini 21 Apr 2026

“Dari Raden Ajeng Kartini ke Era Digital: Perjuangan Perempuan Melawan Ketimpangan yang Tak Lagi Terlihat”

Selly Adinda

Mahasiswa Pendidikan

3 menit baca
Kalau Raden Ajeng Kartini hidup di zaman sekarang, mungkin dia nggak cuma nulis surat dia bakal nge-thread di media sosial, bikin podcast, atau bahkan jadi aktivis digital yang vokal banget. Tapi satu hal yang kemungkinan besar tetap sama: keresahannya soal ketimpangan perempuan.

Dulu, Kartini melawan hal-hal yang kasat mata akses pendidikan yang terbatas, aturan sosial yang mengekang, dan posisi perempuan yang dianggap “cukup di dapur.” Dalam salah satu suratnya, ia menulis, “Kami ingin sekali memperoleh kemajuan, tetapi adat dan kebiasaan menghalanginya.” (Kartini, Habis Gelap Terbitlah Terang). 

Jelas banget, musuhnya waktu itu nyata dan terlihat. Sekarang? Ketimpangan itu masih ada, tapi bentuknya jauh lebih halus bahkan kadang nggak disadari.

Di era digital, perempuan memang punya lebih banyak ruang. Mereka bisa sekolah tinggi, kerja di berbagai bidang, bahkan memimpin perusahaan atau negara. Tapi di balik itu, muncul masalah baru: bias algoritma, standar kecantikan yang nggak realistis di media sosial, hingga pelecehan online yang sering dianggap “hal biasa.”

Misalnya, banyak studi menunjukkan bahwa perempuan masih lebih sering jadi target body shaming atau komentar seksis di internet. Menurut laporan UN Women, “Perempuan dan anak perempuan lebih mungkin mengalami kekerasan berbasis gender secara online dibanding laki-laki.” Ini menunjukkan bahwa ruang digital yang seharusnya bebas justru jadi medan baru ketimpangan.

Belum lagi soal dunia kerja. Secara formal, peluang sudah terbuka. Tapi secara praktik, perempuan masih sering menghadapi “glass ceiling” batas tak terlihat yang menghambat mereka naik ke posisi puncak. Bahkan di sektor teknologi, yang identik dengan masa depan, representasi perempuan masih jauh dari ideal.

Ironisnya, semua ini sering dibungkus dengan narasi “kesetaraan sudah tercapai.” Padahal, realitanya lebih kompleks. Ketimpangan hari ini bukan lagi soal boleh atau tidak boleh sekolah, tapi soal apakah suara perempuan benar-benar didengar, dihargai, dan diperlakukan setara.

Di sinilah semangat Kartini masih relevan. Perjuangannya bukan cuma soal emansipasi dalam arti sempit, tapi tentang kebebasan berpikir dan menentukan jalan hidup. Ia pernah menulis, “Banyak hal yang dapat menjatuhkanmu. Tapi satu-satunya hal yang benar-benar dapat menjatuhkanmu adalah sikapmu sendiri.” (Kartini, Habis Gelap Terbitlah Terang). Kutipan ini terasa cocok banget dengan kondisi sekarang bahwa kesadaran dan keberanian tetap jadi kunci.

Bedanya, kalau dulu perempuan harus melawan sistem yang terang-terangan menindas, sekarang mereka harus cukup jeli untuk mengenali ketidakadilan yang tersembunyi di balik layar baik itu layar ponsel, laptop, atau bahkan struktur sosial yang tampak “modern.”

Jadi, memperingati Hari Kartini hari ini seharusnya bukan sekadar pakai kebaya atau upload foto estetik. Tapi juga momen buat nanya ke diri sendiri: apakah kita sudah benar-benar melanjutkan perjuangan itu? Atau justru tanpa sadar, kita ikut membiarkan ketimpangan versi baru tetap hidup?

Karena mungkin, “gelap” di zaman sekarang bukan lagi soal tidak adanya cahaya tapi tentang cahaya yang terlalu silau, sampai kita nggak bisa melihat masalah yang sebenarnya masih ada.
Opini Indonesia Emas