Ilustrasi • Indonesia Emas 2045
Opini 24 Mar 2026

Antara AI, Lapangan Kerja, dan Masa Depan Kita: Jangan Sampai Jadi Penonton di Era Sendiri

Selly Adinda

Mahasiswa Pendidikan

3 menit baca
Akhir-akhir ini, kita pasti sering banget denger soal kecerdasan buatan alias AI. Dari yang awalnya cuma dianggap teknologi “masa depan”, sekarang malah jadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Mulai dari ngerjain tugas, bikin desain, sampai bantu kerja kantoran semuanya bisa dibantu AI.

Kedengarannya keren, ya? Tapi di balik itu, ada satu pertanyaan penting: kita ini lagi dimudahkan, atau pelan-pelan digeser?

Isu ini bukan sekadar tren. Ini realita yang lagi kita hadapi bareng-bareng. Bahkan menurut laporan Future of Jobs Report 2025 dari World Economic Forum, diperkirakan jutaan pekerjaan akan tergeser oleh otomatisasi, tapi di saat yang sama juga muncul banyak jenis pekerjaan baru yang sebelumnya belum pernah ada.

Seperti yang disampaikan oleh Klaus Schwab, pendiri World Economic Forum:
“Kita sedang berada di tengah revolusi yang secara fundamental mengubah cara kita hidup, bekerja, dan berhubungan satu sama lain.”

Kalau dipikir-pikir, ini bukan cuma soal teknologi. Ini soal kesiapan kita sebagai manusia menghadapi perubahan.

Sebagai mahasiswa khususnya kita yang ada di FKIP isu ini jadi dekat banget. Kita ini calon pendidik. Pertanyaannya, nanti kita mau jadi guru yang cuma ngikutin sistem, atau jadi pendidik yang bisa beradaptasi dan tetap relevan di era digital?

Aku pribadi sempat ngerasa khawatir. Takut kalau peran manusia makin tergeser. Tapi ternyata, justru di situ letak tantangannya. AI itu cuma alat. Yang bikin pembelajaran tetap “hidup” itu manusia empati, interaksi, dan nilai-nilai yang kita tanamkan.

Hal ini juga ditegaskan oleh Yuval Noah Harari, sejarawan dan penulis:
“Di masa depan, yang paling penting bukan hanya apa yang kita tahu, tapi kemampuan kita untuk terus belajar, berubah, dan beradaptasi.”

Sebagai kader KOPRI, kita punya tanggung jawab lebih. Kita bukan cuma dituntut cerdas secara akademik, tapi juga peka terhadap kondisi sosial dan perkembangan zaman. Kita harus mulai membekali diri dengan berbagai keterampilan baik hard skill maupun soft skill.

Apalagi sebagai perempuan, kita nggak boleh lagi ragu buat ambil peran. Dunia lagi berubah cepat, dan kita harus ikut bergerak. Jangan sampai kita malah tertinggal karena takut mencoba hal baru.

Menteri Ketenagakerjaan Indonesia juga pernah menyinggung hal ini dalam sebuah pernyataan publik:
“Transformasi digital menuntut tenaga kerja yang adaptif, kreatif, dan memiliki kemampuan berpikir kritis.”

Artinya, kita nggak bisa lagi bergantung pada satu kemampuan saja. Kita harus terus berkembang.

Teman-teman, dunia boleh berubah secepat apapun, tapi nilai-nilai seperti kepedulian, kejujuran, dan keberanian untuk bersuara itu tetap penting. Justru di tengah kemajuan teknologi, hal-hal itulah yang bikin kita tetap “manusia”.

Terakhir, aku cuma mau bilang:
“di era sekarang, yang bertahan bukan yang paling pintar, tapi yang paling mau belajar.”

Jadi, yuk sama-sama kita siapkan diri. Jangan sampai nanti kita cuma jadi penonton di era kita sendiri. Kita harus jadi bagian dari perubahan itu.

Karena masa depan bukan sesuatu yang kita tunggu tapi sesuatu yang kita ciptakan.

Referensi:
  1. World Economic Forum. (2025). The Future of Jobs Report 2025.
  2. Schwab, K. (2016). The Fourth Industrial Revolution.
  3. Harari, Y. N. (2018). 21 Lessons for the 21st Century.
  4. Kementerian Ketenagakerjaan Republik Indonesia. (2024). Pernyataan terkait transformasi digital dan tenaga kerja.


Oleh: Selly Adinda
Ketua KOPRI Rayon FKIP 
Komisariat UNUSIA Kab. Bogor
Opini Indonesia Emas