Berani Maju, Berani Memimpin: Cerita Tentang Perempuan yang Tidak Lagi Menunggu Giliran
Keberanian untuk memimpin bukan sesuatu yang tiba-tiba muncul. Ia tumbuh dari pengalaman, dari rasa tidak puas, dari keinginan untuk didengar, dan dari keyakinan bahwa suara kita juga penting. Dan jujur saja, jadi perempuan yang memilih untuk memimpin itu bukan hal yang selalu nyaman.
Kami sering melihat bahkan merasakan sendiri bagaimana perempuan yang bersuara tegas sering dianggap “terlalu keras”, sementara laki-laki dianggap “tegas dan berwibawa”. Di situlah tantangannya. Kita bukan hanya belajar memimpin, tapi juga menghadapi stigma yang sudah lama melekat.
Seperti yang pernah disampaikan oleh Malala Yousafzai:
"I raise up my voice not so that I can shout, but so that those without a voice can be heard."
Kutipan ini sederhana, tapi dalam banget. Memimpin itu bukan soal siapa yang paling keras suaranya, tapi siapa yang bisa membawa suara orang lain ikut terdengar. Dan perempuan punya kepekaan itu kemampuan untuk mendengar, merangkul, dan menggerakkan bersama.
Di KOPRI sendiri, kita belajar bahwa perempuan tidak hanya punya ruang, tapi juga punya tanggung jawab. Kita tidak lagi sekadar “dilibatkan”, tapi harus berani mengambil peran. Karena kalau bukan kita yang membuka jalan, siapa lagi?
Menurut data dari UN Women, partisipasi perempuan dalam kepemimpinan masih belum seimbang secara global. Ini bukan karena perempuan tidak mampu, tapi karena akses dan kepercayaan sering kali belum diberikan secara adil. Artinya, keberanian perempuan untuk maju itu bukan hanya soal diri sendiri, tapi juga bagian dari perjuangan yang lebih besar.
Kami percaya, setiap perempuan punya potensi untuk memimpin entah itu di organisasi, di kampus, di lingkungan masyarakat, bahkan dalam lingkup terkecil seperti keluarga. Tapi sering kali yang menghambat bukan kemampuan, melainkan rasa ragu.
Memimpin juga bukan soal menjadi sempurna. Kita tetap boleh belajar, boleh salah, bahkan boleh jatuh. Yang penting adalah tetap berdiri dan mau mencoba lagi. Karena keberanian itu bukan tidak takut, tapi tetap melangkah walaupun takut.
Seperti kata Michelle Obama:
"There is no limit to what we, as women, can accomplish."
Kalimat ini bukan sekadar motivasi kosong. Ini pengingat bahwa batasan yang sering kita rasakan kadang justru berasal dari konstruksi yang dibuat oleh lingkungan dan kadang, oleh diri kita sendiri.
Hari ini, saya ingin bilang: perempuan tidak perlu menunggu izin untuk memimpin. Tidak perlu menunggu “siap sepenuhnya”, karena pada kenyataannya, tidak ada yang benar-benar siap di awal.
Yang kita butuhkan hanyalah satu
Langkah berani.
Langkah untuk bersuara.
Langkah untuk mengambil peran.
Dan mungkin, dari langkah kecil itu, akan lahir perubahan besar.
Karena pada akhirnya, dunia tidak hanya butuh pemimpin yang kuat. Dunia juga butuh pemimpin yang punya empati, ketulusan, dan keberanian untuk membawa perubahan dan perempuan punya semua itu.
Jadi, kalau hari ini kamu masih ragu untuk maju, ingat satu hal: kita tidak diciptakan untuk hanya berdiri di belakang. Kita juga layak berdiri di depan.
Oleh: Selly Adinda
Ketua KOPRI Rayon FKIP
Komisariat UNUSIA Kabupaten Bogor