Ilustrasi • Indonesia Emas 2045
Opini 17 Mar 2026

Kekerasan Seksual pada Perempuan: Masalah Nyata yang Sering Diabaikan

Selly Adinda

Mahasiswa Pendidikan

3 menit baca
Beberapa bulan terakhir, kita semakin sering mendengar cerita tentang perempuan yang mengalami kekerasan seksual. Cerita itu muncul di berita, media sosial, bahkan dari orang di sekitar kita. Meski begitu, masih banyak orang yang menganggap hal ini sebagai masalah yang jarang terjadi atau bahkan menyalahkan korbannya.

Padahal kenyataannya tidak seperti itu.
Kekerasan seksual bisa terjadi pada siapa saja dan di mana saja. Tidak selalu di tempat sepi atau malam hari. Banyak kasus justru terjadi di tempat yang dianggap aman, seperti sekolah, kampus, tempat kerja, bahkan di lingkungan keluarga.

Cerita yang Sering Terjadi
Bayangkan seorang perempuan pulang dari kampus atau kerja. Di jalan dia mendapat komentar yang tidak pantas dari orang yang bahkan tidak dia kenal. Kadang ada juga yang mencoba menyentuh tanpa izin atau memaksa berbicara dengan cara yang membuat tidak nyaman.

Hal seperti ini sering dianggap sepele oleh sebagian orang. Mereka bilang, “Ah, cuma bercanda.” Padahal bagi perempuan yang mengalaminya, itu bisa meninggalkan rasa takut dan trauma.

Dalam kasus yang lebih serius, kekerasan seksual bisa berupa pelecehan fisik, pemaksaan hubungan seksual, hingga pemerkosaan. Dampaknya bukan hanya pada tubuh, tapi juga pada kesehatan mental korban.

Menurut World Health Organization, kekerasan seksual mencakup 

“setiap tindakan seksual, percobaan untuk mendapatkan tindakan seksual, komentar atau pendekatan seksual yang tidak diinginkan, atau tindakan yang ditujukan terhadap seksualitas seseorang dengan menggunakan paksaan.”

Dampak yang Tidak Terlihat
Banyak orang hanya melihat dampak fisik dari kekerasan seksual. Padahal dampak psikologisnya sering kali jauh lebih lama.

Korban bisa mengalami rasa takut, cemas, sulit percaya pada orang lain, bahkan depresi. Ada juga yang mengalami gangguan stres pascatrauma atau Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD).

Sayangnya, masih banyak korban yang memilih diam. Mereka takut tidak dipercaya, disalahkan, atau malah dipermalukan.

Menurut laporan dari United Nations Women, banyak korban kekerasan seksual tidak melaporkan kejadian yang mereka alami karena stigma sosial dan kurangnya dukungan dari lingkungan.
Pentingnya Dukungan dari Lingkungan
Salah satu hal paling penting bagi korban adalah dukungan. 

Mendengarkan tanpa menghakimi bisa sangat membantu proses pemulihan mereka.
Sering kali korban justru mendapat pertanyaan seperti:

“Kenapa kamu pergi ke sana?”
“Kenapa kamu pakai baju seperti itu?”
“Kenapa tidak melawan?”

Pertanyaan seperti ini bisa membuat korban merasa bersalah, padahal yang sepenuhnya bertanggung jawab adalah pelaku.

Seperti yang dikatakan oleh Tarana Burke, aktivis gerakan Me Too movement:
“You are not alone. This happened to many of us.”
Kutipan ini menjadi pengingat bahwa korban tidak sendirian dan berhak mendapatkan dukungan.

Apa yang Bisa Kita Lakukan?
Mengatasi kekerasan seksual bukan hanya tugas korban atau aparat hukum. Ini adalah tanggung jawab bersama.
Beberapa hal sederhana yang bisa dilakukan antara lain:
  • Tidak menyalahkan korban
  • Berani menegur perilaku yang tidak pantas
  • Memberikan edukasi tentang persetujuan (consent)
  • Mendukung korban untuk mendapatkan bantuan
Semakin banyak orang yang sadar dan peduli, semakin besar peluang untuk menciptakan lingkungan yang aman bagi perempuan.

Kekerasan seksual pada perempuan bukanlah isu yang jauh dari kehidupan kita. Masalah ini nyata dan bisa terjadi di mana saja.

Dengan meningkatkan kesadaran, empati, dan keberanian untuk bersuara, kita bisa membantu mengurangi kekerasan seksual dan menciptakan masyarakat yang lebih aman dan adil bagi semua orang.

Seperti yang sering diingatkan dalam gerakan Me Too movement, perubahan dimulai dari keberanian untuk mendengar, percaya, dan mendukung korban.

Referensi

  1. World Health Organization. (2021). Violence against women prevalence estimates.
  2. United Nations Women. (2022). Facts and figures: Ending violence against women.
  3. Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan. (2023). Catatan Tahunan Kekerasan terhadap Perempuan.
  4. Tarana Burke. Aktivis dan pendiri gerakan Me Too Movement
Opini Indonesia Emas