Ilustrasi • Indonesia Emas 2045
Opini 17 Mar 2026

Kesetaraan Gender: Beban yang Berbeda, Tapi Sama Beratnya

Selly Adinda

Mahasiswa Pendidikan

3 menit baca
Kalau kita ngobrol soal kesetaraan gender, sering banget arahnya jadi perdebatan: siapa yang lebih terbebani, laki-laki atau perempuan? Padahal, kalau dilihat lebih dalam, keduanya sama-sama memikul beban cuma bentuknya aja yang beda.

Di kehidupan sehari-hari, perempuan sering dituntut jadi “superwoman.” Harus bisa kerja, urus rumah, jaga anak, bahkan tetap tampil menarik. Sementara itu, laki-laki juga hidup dengan tekanan yang nggak kalah berat. Mereka diharapkan jadi tulang punggung, harus kuat, nggak boleh menunjukkan emosi, dan selalu siap menghadapi masalah sendirian.

Menurut Simone de Beauvoir dalam bukunya The Second Sex, perempuan tidak dilahirkan dengan peran tertentu, melainkan “dibentuk” oleh masyarakat. Ia menulis, “One is not born, but rather becomes, a woman.” Artinya, banyak tuntutan terhadap perempuan sebenarnya hasil konstruksi sosial.

Hal yang sama juga bisa dilihat pada laki-laki. Judith Butler menjelaskan bahwa gender itu adalah sesuatu yang dibentuk lewat kebiasaan sosial, bukan sesuatu yang sepenuhnya alami. Jadi, laki-laki juga sebenarnya “dipaksa” untuk memenuhi standar maskulinitas tertentu.

Pendapat ini diperkuat oleh bell hooks yang menyatakan bahwa sistem patriarki tidak hanya merugikan perempuan, tetapi juga laki-laki. Ia menyoroti bagaimana laki-laki sering kehilangan kebebasan untuk mengekspresikan emosi karena tuntutan sosial.

Kalau kita tarik ke realitas di Indonesia, pola ini masih sangat terasa. Perempuan sering dianggap bertanggung jawab atas pekerjaan domestik, sementara laki-laki dibebani tanggung jawab ekonomi. Padahal, kondisi zaman sudah berubah—perempuan banyak yang bekerja, dan laki-laki juga mulai ingin terlibat dalam urusan rumah tangga.

Pandanganku, salah satu masalah terbesar dalam isu kesetaraan gender adalah cara kita memahaminya. Kesetaraan sering dianggap sebagai “persaingan”—siapa yang lebih menderita, siapa yang lebih berhak diperjuangkan. Padahal, cara berpikir seperti ini justru memperkeruh keadaan.

Aku melihat ada kecenderungan di masyarakat bahkan di media sosial untuk membandingkan penderitaan. Misalnya, ketika perempuan membahas ketidakadilan yang mereka alami, ada sebagian laki-laki yang langsung merespons dengan, “laki-laki juga susah.” Sebaliknya, ketika laki-laki membicarakan tekanan mereka, kadang dianggap tidak valid karena perempuan “lebih tertindas.”

Pandanganku, ini bukan soal siapa yang lebih berat, tapi soal bagaimana dua-duanya sama-sama terjebak dalam sistem yang kaku.

Kesetaraan gender seharusnya bukan tentang membuat laki-laki dan perempuan “sama persis,” tapi memberi ruang agar keduanya bisa jadi manusia seutuhnya. Laki-laki boleh lemah tanpa dianggap gagal. Perempuan boleh ambisius tanpa dianggap melanggar kodrat.

Kritik lain yang juga penting adalah: perubahan sering hanya dituntut ke satu pihak. Misalnya, perempuan didorong untuk mandiri dan kuat, tapi laki-laki jarang diajak untuk belajar memahami emosi atau berbagi peran domestik. Padahal, kesetaraan itu butuh perubahan dari dua arah.

Kalau hanya satu pihak yang berubah, yang terjadi bukan kesetaraan tapi ketimpangan dalam bentuk baru.

Pada akhirnya, kesetaraan gender bukan soal siapa yang lebih terbebani, tapi bagaimana kita bisa saling memahami beban masing-masing. Laki-laki dan perempuan sama-sama menghadapi tekanan sosial, hanya saja bentuknya berbeda.

Mungkin langkah awal yang paling sederhana adalah berhenti membandingkan, dan mulai mendengarkan.

Karena kesetaraan bukan soal menang atau kalah tapi soal berjalan bareng.

Referensi
  • Beauvoir, S. de. (1949). The Second Sex.
  • Butler, J. (1990). Gender Trouble.
  • hooks, b. (2004). The Will to Change: Men, Masculinity, and Love.
  • Fakih, M. (1996). Analisis Gender dan Transformasi Sosial.
Opini Indonesia Emas