Ilustrasi • Indonesia Emas 2045
Opini 12 Feb 2026

Kesetaraan Gender: Bukan Soal Siapa Lebih Hebat, Tapi Soal Kesempatan yang Sama

Selly Adinda

Mahasiswa Pendidikan

3 menit baca
Pernah nggak sih kita dengar kalimat seperti,
“Namanya juga perempuan, wajar kalau nggak bisa angkat berat,” 
atau 
“Laki-laki kok nangis?” 
Kalimat-kalimat seperti itu sering banget kita dengar dalam kehidupan sehari-hari. Kelihatannya sepele, bahkan kadang dianggap bercanda. Tapi sebenarnya, dari situlah kita bisa mulai memahami kenapa teori kesetaraan gender itu penting.

Kesetaraan gender pada dasarnya adalah gagasan bahwa laki-laki dan perempuan punya hak, kesempatan, dan perlakuan yang sama dalam berbagai aspek kehidupan. Bukan berarti semua orang harus sama persis atau melakukan hal yang sama, tapi lebih ke arah setiap orang punya kebebasan untuk memilih jalan hidupnya tanpa dibatasi oleh label “itu kan kerjaan laki-laki” atau “itu nggak cocok buat perempuan.”

Kalau kita lihat ke belakang, dalam banyak budaya, peran laki-laki dan perempuan sudah ditentukan sejak lama. Laki-laki dianggap sebagai pencari nafkah utama, kuat, tegas, dan nggak boleh menunjukkan emosi. Sementara perempuan sering ditempatkan di ranah domestik, mengurus rumah, anak, dan dianggap lebih lembut serta penurut. Pembagian ini kemudian dianggap sebagai sesuatu yang “alami”, padahal sebenarnya banyak dipengaruhi oleh konstruksi sosial—alias kebiasaan dan aturan yang dibentuk masyarakat dari waktu ke waktu.

Di sinilah teori kesetaraan gender masuk. Para pemikir dan aktivis mulai mempertanyakan: apakah benar kemampuan seseorang ditentukan oleh jenis kelaminnya? Apakah perempuan memang secara alami tidak cocok menjadi pemimpin? Apakah laki-laki tidak boleh bekerja di ranah yang identik dengan perempuan, seperti menjadi perawat atau guru PAUD?

Teori ini menjelaskan bahwa banyak perbedaan peran antara laki-laki dan perempuan bukan murni karena faktor biologis, melainkan karena cara masyarakat membentuk dan mendidik mereka. Sejak kecil, anak perempuan mungkin lebih sering diberi boneka, sementara anak laki-laki diberi mobil-mobilan atau robot. Tanpa sadar, kita sedang mengarahkan mereka pada peran tertentu.

Kesetaraan gender juga bukan cuma soal perempuan. Laki-laki juga sering dirugikan oleh stereotip. Misalnya, tekanan untuk selalu kuat dan tidak boleh terlihat lemah bisa membuat banyak laki-laki kesulitan mengekspresikan perasaan mereka. Akibatnya, masalah kesehatan mental pada laki-laki sering terabaikan.

Dalam dunia kerja, isu kesetaraan gender sering terlihat dari perbedaan gaji, kesempatan promosi, atau jumlah perempuan di posisi kepemimpinan. Padahal, kalau kemampuan dan kompetensinya sama, kenapa harus dibedakan? Teori kesetaraan gender mendorong sistem yang lebih adil, di mana penilaian didasarkan pada kemampuan, bukan jenis kelamin.

Tentu saja, membicarakan kesetaraan gender bukan berarti menghapus perbedaan biologis antara laki-laki dan perempuan. Perbedaan itu tetap ada dan wajar. Tapi yang diperjuangkan adalah agar perbedaan tersebut tidak menjadi alasan untuk membatasi hak dan kesempatan seseorang.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita bisa mulai dari hal kecil. Misalnya, membiasakan berbagi tugas rumah tanpa memandang gender, mendukung teman atau pasangan untuk mengejar kariernya, atau tidak langsung menghakimi seseorang hanya karena ia memilih jalan yang “tidak biasa” menurut standar masyarakat.

Pada akhirnya, kesetaraan gender bukan tentang siapa yang lebih unggul. Ini tentang menciptakan ruang yang adil bagi semua orang untuk berkembang sesuai potensi mereka. Karena ketika setiap orang diberi kesempatan yang sama, yang diuntungkan bukan cuma individu, tapi juga masyarakat secara keseluruhan.

Jadi, kalau suatu hari kita mendengar lagi kalimat seperti 
“itu bukan kerjaan perempuan” 
atau
“laki-laki nggak boleh begitu”,
mungkin kita bisa mulai bertanya: memangnya kenapa tidak? 
Opini Indonesia Emas