Ilustrasi • Indonesia Emas 2045
Opini 20 Mar 2026

Lebaran Bukan Ajang Interogasi: Yuk, Lebih Peka Saat Bertanya

Selly Adinda

Mahasiswa Pendidikan

3 menit baca
Lebaran itu harusnya jadi momen paling hangat dalam setahun. Momen buat pulang, ketemu orang-orang tersayang, makan enak, ketawa bareng. Tapi realitanya? Kadang yang datang bareng ketupat bukan cuma opor, tapi juga “serangan pertanyaan” yang nggak semua orang siap nerima.

Saya, Selly Adinda, Ketua KOPRI PMII Rayon FKIP Komisariat UNUSIA Kabupaten Bogor, ngerasa fenomena ini udah kayak tradisi tahunan yang… ya, jujur aja, capek juga.

Baru juga duduk, belum selesai salam-salaman, tiba-tiba:
“Sekarang kerja di mana?”
“Kapan nikah?”
“Udah umur segini loh…”
“Gajinya berapa emang?”
Kadang pengen jawab, “Ini lagi Lebaran 
apa lagi tes wawancara hidup ya?”

Masalahnya, pertanyaan-pertanyaan kayak gitu sering dianggap wajar. Padahal belum tentu yang ditanya itu lagi baik-baik aja. Nggak semua orang lagi di fase hidup yang “rapi” buat diceritain. Ada yang lagi berjuang dapet kerja, ada yang lagi healing dari masalah pribadi, ada juga yang lagi capek sama ekspektasi hidup itu 
sendiri.

Salah satu kader KOPRI pernah cerita ke saya:
“Yang bikin deg-degan tuh bukan ketemu keluarga, tapi mikirin nanti ditanya apa lagi. Kadang pengen kabur aja sebelum ditanya ‘kapan nikah’.”
Kedengerannya lucu, tapi kalau dipikir-pikir, ini nyata. Banyak orang yang akhirnya ngerasa nggak nyaman di momen yang seharusnya bikin nyaman.

Kalau kita tarik sedikit ke sisi psikologis, pertanyaan yang terlalu personal tanpa kesiapan bisa bikin orang ngerasa tertekan, bahkan cemas. Apalagi kalau itu diulang terus tiap tahun (American Psychological Association, 2020).

Yang sering jadi masalah itu bukan niatnya, tapi caranya. Banyak yang bilang, “kan cuma nanya,” atau “biar akrab.” Tapi ya… akrab juga ada batasnya. Nggak semua hal harus ditanya, dan nggak semua orang wajib 
jawab.

Ada juga cerita dari seorang mahasiswa:
“Aku tuh pengen ditanya ‘lagi sibuk apa sekarang?’ bukan ‘kapan wisuda?’ Soalnya rasanya beda banget. Yang satu peduli, yang satu kayak nuntut.”
Nah, ini poinnya. Cara kita nanya itu ngaruh banget ke perasaan orang lain.

Menurut kami, Lebaran itu bukan ajang buat ngecek siapa yang paling cepat sukses. Bukan juga buat banding-bandingin hidup orang. Lebaran itu soal hadir, soal nyambung lagi, soal bikin orang lain ngerasa diterima—apa adanya.

Sebagai bagian dari KOPRI PMII, kami percaya kita bisa mulai dari hal kecil: lebih peka. Lebih sadar kalau nggak semua pertanyaan itu perlu dilontarkan. Kadang cukup tanya, “apa kabar?” dan bener-bener denger jawabannya, itu udah lebih dari cukup.
Jadi mungkin tahun ini, kita bisa coba ubah sedikit cara kita bersilaturahmi. Nggak perlu jadi orang yang paling banyak nanya, cukup jadi orang yang paling bikin nyaman.

Karena pada akhirnya, Lebaran itu bukan tentang seberapa banyak yang kita tahu soal hidup orang lain. Tapi seberapa besar kita bisa jaga perasaan 
mereka.

Referensi:
  • American Psychological Association. (2020). Stress in America Report.
  • Hasil wawancara internal KOPRI PMII Rayon FKIP Komisariat UNUSIA Kabupaten Bogor (2026).
Opini Indonesia Emas