Lebaran Bukan Ajang Interogasi: Yuk, Lebih Peka Saat Bertanya
Saya, Selly Adinda, Ketua KOPRI PMII Rayon FKIP Komisariat UNUSIA Kabupaten Bogor, ngerasa fenomena ini udah kayak tradisi tahunan yang… ya, jujur aja, capek juga.
Baru juga duduk, belum selesai salam-salaman, tiba-tiba:
“Sekarang kerja di mana?”
“Kapan nikah?”
“Udah umur segini loh…”
“Gajinya berapa emang?”
apa lagi tes wawancara hidup ya?”
Masalahnya, pertanyaan-pertanyaan kayak gitu sering dianggap wajar. Padahal belum tentu yang ditanya itu lagi baik-baik aja. Nggak semua orang lagi di fase hidup yang “rapi” buat diceritain. Ada yang lagi berjuang dapet kerja, ada yang lagi healing dari masalah pribadi, ada juga yang lagi capek sama ekspektasi hidup itu
sendiri.
Salah satu kader KOPRI pernah cerita ke saya:
“Yang bikin deg-degan tuh bukan ketemu keluarga, tapi mikirin nanti ditanya apa lagi. Kadang pengen kabur aja sebelum ditanya ‘kapan nikah’.”
Kalau kita tarik sedikit ke sisi psikologis, pertanyaan yang terlalu personal tanpa kesiapan bisa bikin orang ngerasa tertekan, bahkan cemas. Apalagi kalau itu diulang terus tiap tahun (American Psychological Association, 2020).
Yang sering jadi masalah itu bukan niatnya, tapi caranya. Banyak yang bilang, “kan cuma nanya,” atau “biar akrab.” Tapi ya… akrab juga ada batasnya. Nggak semua hal harus ditanya, dan nggak semua orang wajib
jawab.
Ada juga cerita dari seorang mahasiswa:
“Aku tuh pengen ditanya ‘lagi sibuk apa sekarang?’ bukan ‘kapan wisuda?’ Soalnya rasanya beda banget. Yang satu peduli, yang satu kayak nuntut.”
Menurut kami, Lebaran itu bukan ajang buat ngecek siapa yang paling cepat sukses. Bukan juga buat banding-bandingin hidup orang. Lebaran itu soal hadir, soal nyambung lagi, soal bikin orang lain ngerasa diterima—apa adanya.
Sebagai bagian dari KOPRI PMII, kami percaya kita bisa mulai dari hal kecil: lebih peka. Lebih sadar kalau nggak semua pertanyaan itu perlu dilontarkan. Kadang cukup tanya, “apa kabar?” dan bener-bener denger jawabannya, itu udah lebih dari cukup.
Karena pada akhirnya, Lebaran itu bukan tentang seberapa banyak yang kita tahu soal hidup orang lain. Tapi seberapa besar kita bisa jaga perasaan
mereka.
Referensi:
- American Psychological Association. (2020). Stress in America Report.
- Hasil wawancara internal KOPRI PMII Rayon FKIP Komisariat UNUSIA Kabupaten Bogor (2026).