MBG dan Kegelisahan Kami sebagai Kader Putri
Belakangan, istilah MBG sering disebut sebagai langkah maju dalam dunia pendidikan. Katanya demi efisiensi. Katanya demi modernisasi.
Tapi sebagai mahasiswa yang hidup langsung di dalam sistem itu, kami justru merasakan hal yang berbeda: pendidikan terasa makin kaku dan melelahkan.
Sekolah dan kampus sekarang seperti arena lomba yang tak pernah selesai. Semua diukur dengan angka. Semua dibuktikan dengan nilai. Seolah-olah keberhasilan hanya bisa dilihat dari IPK dan sertifikat. Padahal, belajar bukan cuma soal hasil akhir. Ada proses, ada jatuh bangun, ada ruang untuk salah dan memperbaiki diri.
Sebagai bagian dari Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia, kami diajarkan bahwa pendidikan seharusnya membentuk manusia yang utuh—yang berpikir kritis, punya empati sosial, dan berani menyuarakan kebenaran. Tapi realitas hari ini sering kali berbeda.
Banyak mahasiswa sibuk mengejar standar sistem, bukan mengejar makna belajar itu sendiri. Yang lebih kami rasakan sebagai kader putri adalah tekanan yang berlapis. Tidak hanya soal akademik, tapi juga ekspektasi sosial. Harus berprestasi, harus aktif organisasi, harus tetap memenuhi harapan keluarga. Ketika lelah, tidak selalu ada ruang aman untuk mengakuinya. Kita sering dituntut kuat tanpa diberi kesempatan untuk rapuh.
MBG mungkin lahir dengan niat baik. Tapi ketika implementasinya lebih menekankan target administratif daripada pertumbuhan manusia, di situlah masalah muncul. Guru sibuk laporan, mahasiswa sibuk memenuhi format, sementara esensi pendidikan perlahan bergeser.
Kami percaya pendidikan bukan pabrik. Kita bukan produk yang harus seragam. Setiap orang punya ritme dan potensi yang berbeda. Ada yang tumbuh lewat akademik, ada yang berkembang lewat organisasi, ada yang menemukan dirinya melalui proses diskusi dan pergerakan. Jika semuanya dipaksa dalam satu ukuran, banyak yang akan merasa tertinggal—padahal sebenarnya hanya berbeda.
Sebagai kader putri, Kami merasa KOPRI punya tanggung jawab moral untuk bersuara. Kita tidak bisa hanya menjadi pelengkap struktur organisasi. Kita harus menjadi ruang refleksi, ruang aman, dan ruang perjuangan.
Kita perlu berani mengkritisi kebijakan pendidikan yang tidak berpihak pada kemanusiaan. Kita perlu menghadirkan diskusi tentang kesehatan mental, tekanan akademik, dan keadilan akses pendidikan. Karena pada akhirnya, pendidikan bukan hanya soal hari ini. Ia adalah investasi jangka panjang bagi masa depan bangsa.
Kalau sejak sekarang kita membiarkan sistem yang membuat mahasiswa lelah dan kehilangan makna belajar, maka kita sedang menyiapkan generasi yang rapuh.
Pertanyaannya sederhana: apakah kita ingin dikenal sebagai generasi yang diam melihat masalah, atau generasi yang berani memperbaiki arah?
Sebagai kader putri, kami memilih untuk tidak diam.