Ilustrasi • Indonesia Emas 2045
Opini 16 Feb 2026

MBG Menjanjikan atau Meruntuhkan masa depan?

Selly Adinda

Mahasiswa Pendidikan

3 menit baca
Belakangan ini, istilah MBG makin sering terdengar di obrolan orang tua, guru, sampai mahasiswa. Ada yang bilang ini terobosan, ada juga yang mulai geleng-geleng kepala. Tapi kalau kita lihat lebih dekat, banyak tanda yang bikin kita bertanya: jangan-jangan MBG justru pelan-pelan merusak masa depan pendidikan?

Pendidikan yang Makin Kehilangan Arah
Dulu, sekolah itu tempat orang belajar berpikir. Tempat kita salah, diperbaiki. Tempat kita jatuh, dibimbing. Tapi sekarang, suasananya berubah. Segala sesuatu terasa serba cepat, serba instan, dan serba angka.

“Yang penting lulus.”
“Yang penting nilainya bagus.”
“Yang penting kelihatan berhasil.”

Kalimat-kalimat itu makin sering terdengar. Sayangnya, kata “paham” dan “proses” makin jarang disebut.

MBG hadir dengan janji efisiensi dan modernisasi. Tapi dalam praktiknya, banyak sekolah jadi lebih sibuk mengejar target administratif daripada membangun kualitas belajar. Guru dipaksa menyesuaikan sistem, murid dipaksa mengikuti format. Pendidikan berubah jadi soal memenuhi standar, bukan mengembangkan potensi.

Tekanan yang Tidak Terlihat
Masalahnya bukan cuma soal sistem, tapi dampaknya ke manusia di dalamnya. Guru makin terbebani laporan. Murid makin stres dengan tuntutan. Orang tua makin bingung karena aturan berubah terus. Semua seperti berlari, tapi tidak jelas menuju ke mana.

Seorang guru pernah berkata,

“Sekarang kami lebih sering mengurus sistem daripada mengurus anak.”

Kalimat itu terdengar sederhana, tapi maknanya dalam sekali.

Kalau guru kehilangan waktu untuk membimbing, siapa yang akan membentuk karakter murid? Kalau murid hanya fokus mengejar nilai, kapan mereka belajar berpikir kritis?

Contoh Nyata di Era Sekarang
Kita bisa lihat dampaknya dari fenomena yang terjadi belakangan ini: meningkatnya kasus siswa yang mengalami burnout akademik.

Di beberapa kota besar, konselor sekolah melaporkan makin banyak siswa yang merasa cemas berlebihan soal nilai dan masa depan. Bahkan ada yang mengalami gangguan kesehatan mental karena tekanan akademik yang terus-menerus.

Ironisnya, di saat nilai rata-rata sekolah meningkat secara statistik, kemampuan literasi dan numerasi justru stagnan. Artinya, angka terlihat bagus, tapi kualitas pemahaman belum tentu ikut naik.

Ini yang berbahaya.

Pendidikan seharusnya membuat anak percaya diri dan siap menghadapi dunia. Tapi kalau yang tumbuh justru rasa takut gagal, kita sedang membangun generasi yang rapuh.

Pendidikan Bukan Pabrik
Masalah paling mendasar dari MBG adalah cara pandangnya yang terlalu mekanis. Pendidikan diperlakukan seperti pabrik: ada input, ada proses, ada output. Semua harus terukur, semua harus sesuai indikator.

Padahal manusia bukan produk.
Setiap anak punya ritme belajar yang berbeda. Ada yang cepat di angka, ada yang kuat di seni, ada yang unggul di komunikasi. Kalau semuanya dipaksa masuk satu standar, yang tidak cocok akan dianggap tertinggal.

Dan ketika terlalu banyak anak merasa tertinggal, sistemnya yang perlu dipertanyakan.

Apa yang Sebenarnya Kita Inginkan?
Kalau ditanya sederhana: kita ingin anak-anak kita jadi apa?

Kalau jawabannya hanya “punya nilai tinggi”, mungkin MBG terasa cukup. Tapi kalau jawabannya “jadi manusia utuh yang berpikir, berempati, dan berani”, maka sistem yang terlalu kaku jelas tidak cukup.

Pendidikan bukan cuma soal hari ini. Ia soal 10, 20, bahkan 30 tahun ke depan. Kalau sekarang kita salah arah, dampaknya baru terasa ketika generasi berikutnya kesulitan menghadapi tantangan dunia nyata.
Dan saat itu, memperbaikinya tidak akan mudah.

MBG mungkin lahir dengan niat baik. Tapi niat baik tanpa evaluasi bisa berubah jadi masalah besar. Pendidikan bukan eksperimen jangka pendek. Ia adalah fondasi masa depan.

Kalau fondasinya retak, bangunan di atasnya tidak akan kuat.

Mungkin sekarang belum semua orang merasakan dampaknya. Tapi pertanyaannya sederhana:
Apakah kita benar-benar sedang membangun masa depan pendidikan, atau justru perlahan merusaknya?

Jawabannya ada pada keberanian kita untuk mengkritisi dan memperbaiki sebelum semuanya terlambat.
Opini Indonesia Emas