Menjadi Perempuan di Dunia yang Masih Bertanya “Kenapa?”
Kenapa harus sekolah tinggi-tinggi kalau ujungnya di dapur?
Kenapa terlalu aktif di organisasi?
Kenapa pulang malam?
Kenapa berani bersuara?
Pertanyaan-pertanyaan itu kelihatannya sepele, tapi kalau dipikir-pikir, itu adalah bentuk keraguan yang terus diarahkan ke perempuan. Seolah-olah setiap langkah kita harus selalu punya pembenaran.
Kami melihat langsung bagaimana perempuan-perempuan muda sebenarnya punya potensi besar. Mereka cerdas, kritis, dan berani. Tapi sayangnya, dunia masih sering tidak memberi ruang yang sama.
Kita masih hidup di lingkungan yang kadang lebih cepat menghakimi daripada memahami.
Padahal, kalau kita tarik ke nilai dasar, perempuan itu punya hak yang sama untuk berkembang. Seperti yang pernah dikatakan oleh R.A. Kartini:
“Habis gelap terbitlah terang.”
Kalimat ini bukan sekadar kata-kata indah, tapi harapan. Harapan bahwa perempuan bisa keluar dari keterbatasan, dari stigma, dan dari keraguan yang terus menghantui.
Masalahnya, sampai hari ini, “gelap” itu belum sepenuhnya hilang. Masih banyak perempuan yang harus berjuang dua kali lebih keras untuk diakui. Ketika laki-laki dianggap tegas, perempuan justru sering dibilang “terlalu emosional”. Ketika perempuan memimpin, masih ada saja yang bertanya, “Emang bisa?”
Di sinilah pentingnya keberanian untuk tetap melangkah, meskipun terus ditanya “kenapa”. Karena sebenarnya, kita tidak selalu harus menjawab semua pertanyaan itu. Kadang, cukup dengan menunjukkan bahwa kita mampu, itu sudah jadi jawaban paling kuat.
Dalam perspektif gerakan, KOPRI hadir bukan hanya sebagai wadah, tapi juga sebagai ruang aman bagi perempuan untuk tumbuh. Kita belajar bahwa suara perempuan itu penting, pengalaman perempuan itu valid, dan mimpi perempuan itu layak diperjuangkan.
Seperti yang disampaikan oleh Simone de Beauvoir:
“One is not born, but rather becomes, a woman.”
Artinya, menjadi perempuan itu adalah proses. Proses memahami diri, melawan batasan, dan membentuk identitas di tengah tekanan sosial.
Akhirnya, menjadi perempuan di dunia yang masih bertanya “kenapa” memang tidak mudah. Tapi bukan berarti kita harus berhenti. Justru dari pertanyaan-pertanyaan itulah, kita belajar untuk semakin kuat, semakin sadar, dan semakin berani menentukan arah hidup kita sendiri.
Karena pada akhirnya, kita tidak hidup untuk memenuhi ekspektasi orang lain. Kita hidup untuk menjadi versi terbaik dari diri kita sendiri.
- Kartini, R.A. (1911). Habis Gelap Terbitlah Terang.
- Beauvoir, Simone de. (1949). The Second Sex.
- Fakih, Mansour. (1996). Analisis Gender dan Transformasi Sosial.
- Data dan refleksi internal gerakan KOPRI PMII.