Ilustrasi • Indonesia Emas 2045
Opini 12 Feb 2026

Teori Feminisme: Memahami Perjuangan untuk Setara

Selly Adinda

Mahasiswa Pendidikan

3 menit baca
Kalau mendengar kata “feminisme”, sebagian orang langsung berpikir tentang perempuan yang marah pada laki-laki. Padahal, sebenarnya tidak sesederhana itu. Feminisme bukan soal siapa yang lebih hebat atau siapa yang harus menang. Feminisme adalah cara berpikir yang ingin melihat perempuan dan laki-laki punya kesempatan yang sama dalam hidup.

Teori feminisme lahir dari kenyataan bahwa sejak dulu, banyak perempuan tidak mendapatkan hak yang sama. Mereka sulit mengakses pendidikan, tidak punya hak memilih dalam politik, dan sering dianggap hanya cocok mengurus rumah. Dari situ muncul pertanyaan: 

kenapa peran dan kesempatan seseorang harus ditentukan oleh jenis kelaminnya?

Di Indonesia, gagasan tentang kesetaraan sudah lama disuarakan. R.A. Kartini, misalnya, pernah menulis, 

“Habis gelap terbitlah terang.” 

Kalimat ini bukan sekadar kata-kata indah, tetapi gambaran harapan bahwa perempuan juga berhak mendapatkan pendidikan dan masa depan yang lebih cerah. Kartini percaya bahwa pendidikan adalah kunci untuk membebaskan perempuan dari keterbatasan.

Dalam perkembangannya, feminisme punya beberapa sudut pandang. Ada yang disebut feminisme liberal. Aliran ini percaya bahwa kalau perempuan diberi akses yang sama—misalnya dalam pendidikan, pekerjaan, dan hukum—maka ketimpangan bisa berkurang. Sejalan dengan itu, Malala Yousafzai pernah berkata, 

“One child, one teacher, one book, one pen can change the world.” 

Pendidikan memang menjadi pintu utama perubahan.

Lalu ada feminisme radikal. Mereka melihat masalahnya bukan cuma di aturan, tapi di pola pikir dan budaya yang sudah lama mengakar. Sistem patriarki—di mana laki-laki sering dianggap lebih berkuasa—dinilai sebagai akar dari banyak ketidakadilan. 

Simone de Beauvoir, seorang filsuf Prancis, pernah mengatakan,

“One is not born, but rather becomes, a woman.” 

Artinya, banyak peran dan sifat yang dilekatkan pada perempuan sebenarnya dibentuk oleh masyarakat, bukan kodrat alami.

Ada juga feminisme sosialis atau marxis yang menghubungkan ketidaksetaraan gender dengan masalah ekonomi. Mereka menyoroti bagaimana kerja domestik perempuan sering dianggap “biasa saja” dan tidak dihitung sebagai kontribusi ekonomi, padahal perannya sangat besar. Dalam konteks ini, perjuangan perempuan bukan hanya soal pengakuan sosial, tetapi juga soal keadilan ekonomi.

Seiring waktu, muncul pemikiran yang lebih luas lagi, seperti feminisme interseksional. Pandangan ini mengatakan bahwa pengalaman setiap perempuan tidak sama. Ada yang menghadapi diskriminasi bukan hanya karena gender, tapi juga karena ras, kelas sosial, atau latar belakang lainnya. 

Aktivis dan penulis Amerika, bell hooks, pernah berkata, 

“Feminism is for everybody.” 

Feminisme bukan milik satu kelompok saja, tetapi untuk semua yang menginginkan keadilan.

Di Indonesia sendiri, tokoh seperti Najwa Shihab pernah menyampaikan bahwa perempuan tidak perlu menjadi “lebih” dari laki-laki untuk dihargai—mereka hanya perlu diberi ruang yang sama untuk menunjukkan kemampuannya. Pernyataan ini mengingatkan kita bahwa inti dari feminisme bukanlah persaingan, melainkan kesempatan.

Yang penting untuk dipahami, feminisme bukan gerakan yang ingin menjatuhkan laki-laki. Justru, feminisme juga menguntungkan laki-laki, karena ia membuka ruang untuk semua orang menjadi dirinya sendiri tanpa dibatasi stereotip. Laki-laki pun sering ditekan oleh ekspektasi sosial, seperti harus selalu kuat atau tidak boleh menunjukkan emosi. Feminisme mengajak kita untuk memikirkan ulang semua itu.

Pada akhirnya, teori feminisme membantu kita memahami bahwa ketidaksetaraan bukan hal yang “alami”, tapi dibentuk oleh kebiasaan, budaya, dan sistem yang sudah lama berjalan. Dan kalau sesuatu itu dibentuk, berarti ia juga bisa diubah.

Seperti kata Michelle Obama, 

“There is no limit to what we, as women, can accomplish.” 

Namun, pencapaian itu akan lebih bermakna ketika dunia benar-benar memberi kesempatan yang sama.

Feminisme adalah tentang keadilan. Tentang memberi ruang yang sama untuk bermimpi, memilih jalan hidup, dan berkembang. Bukan soal siapa lebih unggul, tapi soal memastikan tidak ada yang tertinggal hanya karena perbedaan gender.
Opini Indonesia Emas